The asset manager for a changing world
Woman_Binocular_News_1440x300
  • Home
  • Cara Mudah Memilih Investasi Reksa Dana untuk Pemula

Cara Mudah Memilih Investasi Reksa Dana untuk Pemula

Blog

BNP Paribas Asset Management
 

-

Zz0wMmMzNDYyYzA0OTkxMWVjYTUyZjI3N2RjZjMzN2E4Yw==

Artikel ini dibuat oleh Aulia Akbar CFP®, Financial Educator dan Periset Lifepal sebagai bagian dari kolaborasi antara PT. BNP Paribas Asset Management bersama Lifepal.co.id.

Punya cukup dana tapi masih bingung memilih instrumen investasi yang tepat? Bagi Anda seorang investor pemula, reksa dana bisa menjadi salah satu alternatif pilihan investasi yang tepat.

Reksa dana direkomendasikan bagi para pemula, karena dana para investor akan dikelola oleh Manajer Investasi yang berpengalaman serta diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tentunya Manajer Investasi harus memiliki ijin sebagai Manajer Investasi dari OJK. Selain itu, reksa dana menjadi salah satu instrumen investasi yang mudah dengan beragamnya jenis produk yang ditawarkan.

Menurut Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995, seperti dikutip dari laman OJK, reksa dana merupakan salah satu wadah yang digunakan untuk menghimpun dana masyarakat.

Adapun beberapa manfaat yang bisa diperoleh dari investasi reksa dana adalah, modal awal investasi yang kecil, bisa ditop-up dan dicairkan kapan saja, membantu pencapaian diversifikasi secara otomatis, dan  pajaknya sudah dipotong secara final.

Secara sederhana, masyarakat melakukan urunan dana dan setelah terkumpul, dana tersebut dikelola oleh Manajer Investasi ke dalam sekumpulan atau portofolio efek.

Jika dilihat dari portofolio efeknya, reksa dana memiliki banyak jenis. Selain reksa dana pasar uang, ada pula reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, reksa dana saham, reksa dana terproteksi, reksa dana indeks, hingga Exchanged Traded Fund (ETF). Karakteristik Reksa Dana juga terbagi berdasarkan sisi tingkat dan profil risiko.

Perencana keuangan sekaligus Financial Educator Lifepal, Aulia Akbar CFP®, AEPP® dalam Instagram Live bersama Ozal Thirafi Udaya – Head of Product Strategy & Development PT BNP Paribas Asset Management, memberikan tips memilih reksa dana sebagai instrumen investasi yang tepat untuk pemula.

Kenali manajer investasi pengelola reksa dana dengan baik

Prospektus merupakan dokumentasi resmi suatu produk reksa dana yang berisikan segala informasi terkait fitur reksa dana, diantaranya kebijakan investasi, faktor risiko, perpajakan hingga profil dari bank kustodian dan manajer investasi.

Hal yang wajib dilakukan investor adalah mencari tahu soal rekam jejak manajer investasi (MI). Pastikan MI yang dipilih memiliki izin resmi dari OJK sebagai Manajer Investasi serta tidak pernah terlibat dalam kasus financial security seperti pengelolaan investasi yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Anda juga harus mengetahui jumlah dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) perusahaan manajer investasi tersebut. Tinggi rendahnya jumlah AUM secara tidak langsung merupakan indikator tingginya kepercayaan investor terhadap MI.

Pilih reksa dana sesuai dengan jangka waktu investasi Anda

Semakin pendek jangka waktu investasi yang diinginkan, maka pilihan reksa dana yang disarankan adalah reksa dana dengan tingkat risiko yang rendah. Jika tujuannya untuk jangka panjang, pilihan reksa dananya akan semakin fleksibel, boleh yang rendah volatilitasnya atau yang tinggi guna mengejar prospek tingkat imbal hasil yang lebih besar.

Untuk investasi dengan jangka waktu pendek (1-3 tahun), sangat disarankan untuk memilih reksa dana yang rendah volatilitas seperti reksa dana pasar uang, atau pendapatan tetap.

Sedangkan untuk investasi dengan jangka menengah (3-5 tahun), disarankan untuk memilih reksa dana pasar uang, pendapatan tetap atau campuran. Sementara itu untuk kebutuhan dana pendidikan di atas 5 tahun, maka reksa dana saham boleh dicoba. Namun yang terpenting, investor wajib menentukan tujuan berinvestasi terlebih dahulu, memahami profil risikonya dan menyesuaikannya dengan pilihan instrumen investasi.

Cek benchmark untuk mengukur performa reksa dana

Data historis seputar imbal hasil sebuah reksa dana secara bulanan hingga tahunan tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan untuk memilih produk reksa dana. Anda perlu melakukan perbandingan dengan menggunakan beberapa tolok ukur atau benchmark.

Kinerja reksa dana dibandingkan dengan benchmark yang sesuai dengan strategi investasi masing masing Reksa Dana bisa Anda temukan di fund fact sheet produk reksa dana. Secara umum, kinerja reksa dana perlu dibandingkan dengan benhcmark yang sesuai dengan kelas aset nya masing-masing. Benchmark yang umum digunakan untuk berbagai kelas aset reksa dana adalah sebagai berikut:

– Reksa dana pasar uang vs bunga deposito

Reksa dana pasar uang merupakan reksa dana yang memiliki underlying asset atau aset dasar berupa instrumen pasar uang. Contoh instrumen pasar uang adalah deposito dan surat utang jangka pendek yang jatuh temponya di bawah satu tahun.

Kinerja reksa dana pasar uang memang tergolong lebih stabil ketimbang reksa dana lainnya. Satu-satunya cara untuk mengukur performa reksa dana adalah dengan membandingkannya dengan deposito bank umum.

– Reksa dana saham vs IHSG

Jika reksa dana yang Anda beli adalah reksa dana saham, Anda bisa menggunakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk mengukur performanya.

Ketika kinerjanya bisa mengalahkan IHSG secara konsisten, maka hal itu bisa Anda pertimbangkan.

– Reksa dana pendapatan tetap vs indeks obligasi

Sementara itu, untuk reksa dana pendapatan tetap, benchmark bisa menggunakan Indeks Obligasi Pemerintah, Indeks Obligasi Korporat, atau ICBI (Indonesia Composite Bond Index). Semuanya tergantung isi dari underlying asset dari reksa dana pendapatan tetap yang dipilih.

Ketika sebagian besar underlying asset adalah obligasi pemerintah, maka Indeks Obligasi Pemerintah bisa menjadi benchmark. Namun, ketika obligasi korporasi yang lebih banyak, Indeks Obligasi Korporasi boleh dijadikan acuan. Yang perlu diingat adalah, tingkat risiko kredit lebih tinggi pada aset yang berinvestasi di obligasi korporasi. Untuk itu, investor tetap perlu mencermati kualitas aset dari obligasi korporasi yang dibeli oleh suatu reksa dana.

– Reksa dana campuran vs indeks ‘campuran’

Untuk reksa dana campuran, karena isi dari underlying assetnya juga bisa berupa campuran antara instrumen pasar uang, obligasi, dan saham, maka benchmark yang digunakan pun sebaiknya disesuaikan dengan isi dan komposisi dari reksa dana tersebut. Apabila reksa dana campuran berisikan 50% instrumen pasar uang dan 50% saham, benchmark yg digunakan juga sebaiknya 50% deposito dan 50% IHSG.

Perhatikan Sharpe Ratio

Ketika seseorang memilih instrumen investasi yang memiliki volatilitas tinggi maka mereka juga mengharapkan imbal hasil yang tinggi. Sharpe ratio biasa digunakan untuk mengukur kinerja yang telah disesuikan dengan tingkat risiko dari Reksa Dana tersebut.

Sharpe Ratio menghitung seberapa besar kelebihan imbal hasil (excess return) dari suatu reksa dana dibandingkan dengan investasi bebas risiko (risk free) atas setiap unit risikonya. Sharpe Ratio menggunakan standar deviasi dari reksadana sebagai unit risiko. Standar deviasi ini mencerminkan total risiko dari suatu portofolio investasi, termasuk risiko sistematis (risiko pasar) maupun risiko dari portofolio itu sendiri. Jadi, semakin besar standar deviasi, semakin besar pula risiko dari reksadana tersebut.

Tidak ada patokan berapa sharpe ratio yang terbaik, dan sharpe ratio harus dibandingkan dengan Reksa Dana lain yang sejenis (yang mempunyai fitur, tingkat risiko dan kelas aset yang mirip). Sharpe ratio merupakan rasio yang mengukur kinerja reksa dana dengan perbandingan imbal hasil dan risiko (standar deviasi). Makin tinggi sharpe ratio maka makin baik kinerja Reksa Dana tersebut, karena hal ini menunjukkan bahwa tingkat risiko yang diambil memang mampu menghasilkan kinerja yang lebih baik

Jika Anda menemukan nilai sharpe ratio negatif di suatu produk Reksa Dana, akan lebih baik bagi kita untuk memilih Reksa Dana yang sharpe ratio negatifnya paling kecil. Sharpe ratio yang negatif menandakan tingkat risiko lebih besar dibanding dengan tingkat pengembalian.

Ketika Anda membeli Reksa Dana di platform milik Agen Penjual Efek Reksa Dana atau perusahaan sekuritas, maka nilai rasio ini akan tertera di daftar Reksa Dana. Nilai sharpe ratio juga bisa berubah, bisa saja satu Reksa Dana Saham memiliki nilai sharpe ratio yang tinggi dalam 3 bulan namun minus di periode 1 tahun.

Perhatikan nilai draw down

Draw down bisa dimaknai sebagai tingkat kerugian maksimal yang ada di produk Reksa Dana, atau bisa juga didefinisikan sebagai tingkat penurunan kinerja dari titik puncaknya ke titik terendah.

Apabila sebuah Reksa Dana memiliki nilai draw down sebesar 30% setahun, berarti kinerja Reksa Dana tersebut pernah mengalami penurunan sebesar 30%. Sama seperti sharpe ratio, nilai draw down juga bisa dipengaruhi oleh time frame. Jadi, untuk membandingkan draw down, perlu menggunakan time frame yang sama.

Draw down yang tinggi umumnya ditemukan di Reksa Dana Campuran maupun Reksa Dana Saham. Untuk sebagian besar Reksa Dana Pasar Uang, nilai draw down ada di angka 0 koma sekian. Reksa Dana Pasar Uang juga bisa memiliki draw down yang besar, terutama pada reksa dana yang berinvestasi di obligasi korporasi. Tetapi tidak sedikit pula yang nilainya 0,00%. Namun, di sisi lain, ketika Reksa Dana Pasar Uang memiliki draw down 0.00% juga perlu diwaspadai apakah reksa dana tersebut menggunakan metode valuasi yang sesuai dengan peraturan?  Mengingat saat ini, NAB tidak lagi diwajibkan flat di Rp 1000.

Waspadai expense ratio Reksa Dana

Expense ratio bisa juga disebut sebagai perbandingan beban operasional Reksa Dana dengan rata-rata NAB dalam setahun.

Pengelolaan sebuah Reksa Dana tentu akan memunculkan biaya. Biaya-biaya yang ada sebut saja, biaya kustodian, trading, dan biaya lainnya. Semakin kecil expense ratio mencerminkan kehandalan Manajer Investasi dalam mengelola biaya dalam Reksa Dana.

Itulah hal-hal yang mesti diketahui ketika kita memilih Reksa Dana. Pada intinya produk investasi ini memang cocok bagi investor pemula, yang belum pernah berinvestasi. Namun, sebelum memilih produknya, kenalilah lebih dalam seputar produk investasi ini, dan pastikan produk Reksa Dana yang dipilih sesuai dengan profil risiko investor serta Reksa Dana dikelola oleh Manajer Investasi yang terdaftar dan diawasi oleh OJK.

On the same subject: