Berita Terkini
  • 18/12/2020
    Pemberitahuan Perubahan Prospektus dan/atau Kontrak Investasi Kolektif (“KIK”) Reksa Dana BNP Paribas Prima USD Kepada Pemegang Unit Penyertaan Reksa Dana BNP Paribas Prima USD, Pertama-tama kami, PT. BNP Paribas Asset Management selaku Manajer Investasi mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Bapak/Ibu yang telah berinvestasi pada Reksa Dana BNP Paribas Prima USD yang kami kelola. Bersama ini kami sampaikan bahwa kami berencana melakukan perubahan Prospektus dan/atau KIK sehubungan dengan perubahan ketentuan jumlah Unit Penyertaan yang ditawarkan melalui Penawaran Umum menjadi sebagai berikut: Demikian informasi yang dapat kami sampaikan dan terima kasih atas perhatian Bapak/Ibu. Apabila Bapak/Ibu memiliki pertanyaan, kami persilahkan Bapak/Ibu untuk menghubungi Agen Penjual Efek Reksa Dana tempat di mana Bapak/Ibu melakukan pembelian unit penyertaan Reksa Dana BNP Paribas Prima USD. Hormat kami, PT. BNP Paribas Asset Management
  • 15/12/2020
    REKSA DANA SYARIAH BNP PARIBAS GREATER CHINA EQUITY SYARIAH USD TEMBUS USD 100 JUTA SEJAK PELUNCURAN Reksa Dana Syariah BNP Paribas Greater China Equity Syariah USD (BNP Paribas GCES USD) yang dikelola oleh PT. BNP Paribas Asset Management (PT. BNP Paribas AM) berhasil menghimpun dana kelolaan atau AUM (Asset Under Management) sebesar USD 100uta per November, sejak pertama kali diluncurkan pada 15 Januari 2020. Reksa dana ini merupakan reksa dana pertama di Indonesia yang menawarkan akses dan eksposur penuh ke pasar saham China dan sekitarnya (Greater China) bagi investor di Indonesia. Kini BNP Paribas GCES USD telah tersedia di tujuh agen penjual efek reksa dana, baik bank maupun online platform. Greater China merupakan pusat perekonomian terbesar ke-2 berdasarkan PDB, dan pasar saham terbesar ke-2 di dunia1 dengan nilai kapitalisasi pasar sekitar USD12 triliun1. PT BNP Paribas AM percaya bahwa peluang investasi di pasar Greater China masih sangat besar dan eksposur aktif ke pasar saham Greater China dapat bermanfaat bagi portofolio investasi para investor untuk jangka panjang dan tetap memberikan diversifikasi yang menarik bagi investor. Priyo Santoso, Presiden Direktur PT. BNP Paribas AM menjelaskan lebih lanjut, “Kami melihat teknologi dan inovasi, peningkatan konsumsi, serta konsolidasi industri, merupakan tiga struktur utama yang mampu mendorong peluang investasi jangka panjang di pasar Greater China. Kemudian dalam proses pemilihan emiten BNP Paribas GCES USD ini, kami mengadaptasikan prinsip Syariah sekaligus menerapkan proses penyaringan ESG. Tujuannya, agar investor dapat menerima potensi imbal hasil secara jangka panjang dan berkelanjutan di tengah kondisi ekonomi yang kian dinamis." BNP Paribas GCES USD mencakup pasar saham onshore dan offshore di Cina dan sekitarnya. Cakupan sektornya termasuk emiten di Hong Kong di bidang energi, perusahaan milik negara; serta perusahaan teknologi. Tak ketinggalan di dalamnya terdapat kelas saham A yang berpotensi memberikan eksposur lebih besar ke emiten di sektor yang bergerak di industri konsumsi. Secara keseluruhan, produk ini mencakup berbagai jenis usaha dan sektor yang saling melengkapi satu sama lain sehingga memungkinkan adanya diversifikasi sektor yang efektif. Dengan mengandalkan pengetahuan global dalam investasi berkelanjutan, di mana kriteria ESG (Environment Social Governance) diintegrasikan ke dalam proses pemilihan emiten saham, serta pengalaman dan pengetahuan akan pasar saham Greater China dari perusahaan induknya, BNP Paribas Asset Management, BNP Paribas GCES USD secara unik mengintegrasikannya dengan prinsip Syariah guna memberikan investasi yang tetap memenuhi prinsip syariah dan berkelanjutan bagi investor di Indonesia. Sejak diluncurkan pada bulan Januari, reksa dana BNP Paribas GCES USD berhasil mencatat kinerja kumulatif hingga 10,34% pada akhir Oktober 2020. “Pasar Greater China mampu memberikan eksposur ke sektor dan tema yang belum tersedia di pasar domestik, sehingga menambah kesempatan bagi investor Indonesia untuk mendiversifikasikan portofolionya,” lanjut Priyo. BNP Paribas GCES USD adalah reksa dana saham Syariah berbasis efek luar negeri kedua yang diluncurkan oleh PT. BNP Paribas AM yang memadukan prinsip ESG dan Syariah, menyusul peluncuran Reksa Dana Syariah BNP Paribas Cakra Syariah USD sebagai reksa dana Syariah berbasis efek luar negeri pertama di Indonesia yang diluncurkan pertama kali pada bulan Februari 2016. Melalui reksa dana Syariah tersebut, PT BNP Paribas AM berhasil meraih gelar “Best Islamic Fund House” dan Reksa Dana Syariah BNP Paribas Cakra Syariah USD berhasil meraih gelar sebagai “Best Islamic Product 2020” oleh Asia Asset Management. Kini, PT. BNP Paribas AM memiliki tiga reksa dana dengan filter ESG yang mana baru-baru ini dianugerahi sebagai “ESG Asset Management Company of the Year, Indonesia 2020” oleh The Asset, yang semakin memantapkan posisi perusahaan menjadi yang terdepan dalam komitmen investasi yang berkelanjutan. 1 Sources: Wind, FactSet, Goldman Sachs, as of May 2020.
  • 08/12/2020
    PT. BNP PARIBAS ASSET MANAGEMENT: PELUANG INVESTASI DI BALIK “THE GREAT INSTABILITY” PT. BNP Paribas Asset Management (PT. BNP Paribas AM) merilis market outlook-nya untuk tahun 2021. Bertemakan “The Great Instability”, PT BNP Paribas AM menelaah bagaimana faktor-faktor seperti pandemi COVID-19 yang berlangsung sepanjang tahun 2020, politik, ekonomi, perubahan iklim, dan faktor sosial secara bersamaan menciptakan besarnya ketidakpastian, yang kemudian membawa dampak terhadap pasar keuangan sekaligus peluang investasi bagi investor. Priyo Santoso, Presiden Direktur PT. BNP Paribas AM menjelaskan, “Investasi dan inovasi membutuhkan komitmen dan analisa menyeluruh atas dinamika pasar. Bagi kami di BNP Paribas Asset Management, yang lebih penting lagi adalah menjunjung tinggi etos penelaahan menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi. Untuk itu, kami percaya bahwa solusi investasi yang berkelanjutan dalam jangka panjang dapat membantu investor untuk mendapatkan manfaat dari lanskap investasi pada kondisi yang terus berubah.” Menurut Priyo, dampak COVID-19 menunjukkan kondisi pasar dan ekonomi yang paling rentan sejak krisis keuangan global di tahun 2008 lalu. Namun, ia berpendapat bahwa peluang investasi masih tersedia meskipun terjadi pergerakan yang sangat fluktuatif di pasar. “Perkembangan vaksin COVID-19 belakangan menjadi berita yang cukup menggembirakan bagi pasar; dan berpotensi menjadi ‘game changer’ untuk pemulihan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kami percaya bahwa prospek makro Indonesia masih positif jika melihat kondisi current account deficit yang menyempit, tingkat inflasi yang terus rendah, serta tren melemahnya Dolar AS. Selain itu, dengan mempertimbangkan APBN 2021 yang lebih berfokus pada pertumbuhan ekonomi, dampak positif dari kerangka Omnibus law bagi industri secara sektoral, serta pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, seharusnya bisa membuka jalan bagi pemulihan ekonomi di Indonesia secara bertahap.” “Namun, kami juga perlu mengingatkan investor untuk senantiasa menyesuaikan profil risiko dengan tujuan investasi mereka; dan menerapkan pendekatan diversifikasi sebelum mengambil keputusan investasi,” ucap Priyo. PT. BNP Paribas AM senantiasa berkomitmen untuk memberikan solusi investasi yang inovatif dan berkelanjutan (sustainable) bagi para investor demi membantu investor menangkap peluang investasi di tengah kondisi pasar yang dinamis dan cenderung terus berubah. Beberapa strategi yang telah tersedia antara lain adalah melalui reksa dana obligasi, Reksa Dana BNP Paribas Prima II, yang memungkinkan investor memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi Indonesia. Selain itu, PT. BNP Paribas AM juga mengelola Reksa Dana Syariah BNP Paribas Greater China Equity Syariah USD yang memberikan akses bagi investor ke pasar saham di Cina, dengan eksposur ke sektor dan tema yang belum tersedia di pasar domestik, sehingga menambah kesempatan bagi investor Indonesia untuk mendiversifikasikan portofolionya.
  • 11/11/2020
    What to expect after the unexpected? Ketika kondisi dunia yang sudah tidak stabil ini mendapat serangan yang kuat dan sulit diprediksi, rasanya wajar jika kita sejenak menahan nafas dan memikirkan tentang ekonomi dunia. Lantas, apakah sudah tidak ada lagi harapan bagi investor? Tahun 2019 adalah tahun dengan kondisi pasar yang tidak stabil, tetapi dengan arah yang positif, sehingga memberikan prospek yang cukup menjanjikan untuk tahun 2020. Namun, beberapa minggu setelahnya, COVID-19 muncul, suatu kondisi tidak terduga yang mengguncang politik, pasar, dan masyarakat, serta prospek setahun kedepan. Pesimisme telah menggantikan optimisme, tapi bukan berarti peluang investasi tidak dapat ditemukan. UNSETTLING AN UNSETTLED WORLD Sebelum merebaknya virus Corona, ekonomi dunia telah mengalami ketidakpastian yang signifikan. Politik yang tidak stabil, ketegangan geopolitik dan konflik kebijakan moneter yang berlangsung terus menerus mempengaruhi masyarakat yang telah semakin terhubung satu sama lainnya. Faktor-faktor yang terus menerus bertransformasi, seperti perubahan iklim dan inovasi teknologi, membuat keseimbangan yang bertahan lama sulit untuk dicapai. Belum lagi kondisi pasar yang rentan terhadap ancaman fluktuasi. Melihat tahun 2020, banyak pengamat memiliki kekhawatiran yang spesifik – mengenai Brexit, proteksionisme, dan perang dagang US/China – namun secara keseluruhan cenderung memperkirakan pertumbuhan yang sedang dengan tingkat inflasi yang rendah di tengah kondisi suku bunga rendah, dan pelonggaran likuiditas (Quantitative Easing) yang terus berlangsung di Eropa. Namun dampak COVID-19 sempat mengacaukan perkiraan tersebut. Di seluruh dunia, konsumen menahan, atau dilarang untuk melakukan perjalanan jauh, belanja, dan datang ke restoran, pusat kebugaran, bioskop, dan tempat hiburan. Dunia usaha pun juga berhati-hati dalam melakukan investasi, sehingga secara keseluruhan menyebabkan guncangan yang signifikan terhadap permintaan dan penawaran secara global. Hitungan akan dampak menyeluruh atas katalis besar tersebut dan yang masih terus berlangsung, masih belum dapat dilakukan, tetapi kita sudah dapat menganalisa beberapa dampak yang cukup mendalam terhadap masyarakat yang semakin terkoneksi ini. SINYAL DAN TANTANGAN Salah satu aspek yang terdampak paling dalam dari merebaknya virus Corona adalah geopolitik. Sebelum pandemi, sentimen nasionalis di seluruh dunia sudah mulai mempertanyakan pandangan globalisasi akan cara kita bersikap, memandang, dan berdagang. Kini, dalam merespon kondisi darurat akibat pandemi, negara-negara mulai menerapkan pembatasan yang melarang perjalanan “dari” dan “ke” beberapa negara. Namun, apakah pembatasan tersebut akan bertahan lebih lama dari penyebaran virus itu sendiri? China memang sedang mengalami ujian yang signifikan dalam hubungan masyarakat dan ekonomi terhadap kenaikan geopolitik serta finansialnya, yang tampaknya tidak dapat dihentikan beberapa bulan yang lalu. Guncangan ekonomi ini bisa menjadi penghalang bagi terpilihnya kembali Trump, yang juga akan memberikan dampak terhadap kebijakan AS maupun dunia internasional. Pasca Brexit di Eropa, pandemi ini juga mungkin dapat menjadi kesempatan untuk merenungkan kembali keseimbangan ekonomi, politik, dan sosial di Uni Eropa. PERUBAHAN YANG SULIT... Berfokus pada dampak ekonomi akibat COVID-19, kita dapat menyimpulkan bahwa beberapa sektor akan mendapatkan dampak yang lebih besar dibandingkan yang lain. Sektor transportasi akan sangat terpengaruh, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Masyarakat saat ini menghindari mobilitas dan pergerakan yang tidak perlu, baik antar wilayah yang berbeda maupun di dalam kota. Kedepannya, sangat mungkin masyarakat akan enggan untuk kembali pada kebiasaan lama, sehingga memberikan dampak yang signifikan bagi kapal pesiar dan maskapai penerbangan low-cost. Secara umum, perusahaan maupun individu akan mempertimbangkan kembali kebutuhan perjalanan udara mereka, terlebih lagi dengan adanya gerakan “flight shame” yang dikemukakan oleh para aktivis lingkungan hidup. Sektor perhotelan juga akan terdampak di seluruh dunia, demikian juga sektor ritel, olahraga, hiburan, dan budaya. Harga komoditas kemungkinan besar akan terpengaruh untuk waktu yang lama. Hal ini mungkin menguntungkan bagi konsumen, namun berpotensi menimbulkan konsekuensi yang berat yang memaksa pelaku untuk meninggalkan bisnisnya. ...DAN PERUBAHAN YANG POSITIF Seiring dengan berubahnya kebiasaan sehari-hari masyarakat, terdapat beberapa perusahaan dan industri yang akan menikmati dampak positif. Kebutuhan untuk bekerja dari rumah meningkatkan permintaan untuk konferensi video dan layanan terkait lainnya. Selain itu, dengan adanya social distancing yang menyebabkan masyarakat menjadi terpisah secara fisik, peranan teknologi dalam kehidupan keseharian akan menjadi lebih besar dari sebelumnya untuk menjaga hubungan melalui dunia digital. Banyak usaha seperti teater, museum, dan pusat kebugaran, memindahkan layanan mereka secara daring, sementara layanan streaming menjadi semakin populer. Sektor lain yang menerima dampak positif adalah sektor farmasi dan pelayanan kesehatan. Urgensi untuk menemukan vaksin mendorong pendanaan yang lebih besar untuk penelitian, sementara wabah virus ini juga mengingatkan akan kebutuhan untuk meningkatkan pengadaan pelayanan kesehatan publik dan untuk mempertimbangan kebijakan pendukung yang baru, baik untuk jangka pendek dan jangka panjang. INSTABILITY PRODUCES OPPORTUNITY Terlepas dari kesan bahwa tahun ini menjadi kondisi ekonomi yang paling tidak menentu sejak 2008, peluang investasi masih tersedia. Perusahaan teknologi dan pelayanan kesehatan, misalnya, akan mendapat keuntungan dari perubahan pola kerja, ditambah dengan adanya fokus yang baru pada pelayanan kesehatan. Kesempatan-kesempatan lain akan bertambah selama beberapa minggu dan bulan mendatang; meskipun mengidentifikasi kesempatan tersebut pada valuasi yang menarik tidaklah mudah, tapi dengan menggunakan perspektif yang lebih luas pada isu kemasyarakatan dan ekonomi global, hal ini tentunya akan dapat membantu. What to expect after the unexpected?When an unpredictable, powerful force strikes an already unstable world, it is natural to hold breath thinking about the global economy. But is it all doom and gloom for investors?2019 was a year in which markets were unstable but largely positive, leading – in part – to cautiously benign prospects for 2020. Fast-forward a few weeks and the emergence of COVID-19, an unforeseeable entity, has shaken politics, markets and societies, and in turn the prospects for the year ahead. Pessimism has replaced cautious optimism, but that doesn’t mean investment opportunities can’t be found. UNSETTLING AN UNSETTLED WORLD Even before the Coronavirus outbreak, the global economy was experiencing significant uncertainty. Political instability, geopolitical tensions and conflicting monetary policies continuously impact our interconnected society. Factors in constant transformation, like climate change and technological innovation, make a durable balance hard to achieve. And, as always, markets face the presence and threat of volatility. Looking at 2020, commentators had their specific concerns – about Brexit, protectionism, the US/China trade war – but overall tended to forecast modest growth and low inflation in a low-interest environment, and continued quantitative easing (QE) in the Eurozone. The impact of COVID-19, upset such predictions. Worldwide, consumers are reluctant about – or forbidden from – travelling, shopping and attending restaurants, gyms, cinemas, pubs. Businesses too are cautious about making investments, all of which is creating a significant shock to global demand and supply. Calculating the full impact of such a massive, ongoing catalyst is not possible yet, but we can already analyse some of its profound effects on our interconnected society. FLAGS AND BARRIERS One of the spheres most intensely affected by the Coronavirus outbreak is geopolitics. Before the virus hit, nationalistic sentiments around the world were already challenging globalist visions on how we should move, feel, and trade. Now, in the urgency of responding to the outbreak, countries are building new barriers that restrict travel to and from certain countries. But will these barriers last longer than the outbreak itself? China is undoubtedly suffering a significant PR and economic blow to its geopolitical and financial rise, which seemed unstoppable just a few months ago. The economic shock – although no fault of his own – could also prove a considerable barrier to Trump’s re-election, with implications for both US and international policies. And, in a post-Brexit Europe, the outbreak might serve as an occasion to ponder over the economic, political and social balances of the Union. THE ROUGHEST TWISTS… Focussing on the economic impact of COVID-19, we can naturally expect some sectors to be hit more than others. Transportation will be radically affected, both in the short and the long term. People are currently avoiding unnecessary movements, not just across different regions but inside the very same city. For the future, it’s reasonable to expect some resistance to resuming the old habits, with significant blows to cruises and low-cost airlines. In general, businesses and individuals will probably reassess their air travel needs, already challenged by environmentalist “flight shame”. The hospitality sector will be struck worldwide, as well as retail, sport, entertainment and cultural venues. Commodity prices will most likely be affected for a long time and, while such outcome might favour consumers, it will also have severe consequences and force players out of business. …AND THE SMOOTHER TURNS As daily habits are reshaped, some companies and industries will prosper. The need to work from home is boosting the demand for videoconferencing and other related services. And, as social distancing keeps people physically apart, technology’s role will play a bigger than ever part in their personal life too, helping them find connection in the digital world. Many businesses, such as theatres, museums and gyms, are moving their offering online, while streaming services record a popularity peak. Another positively impacted sector will be the pharmaceutical and healthcare one. The urgency to find a vaccine is stimulating heavier funding for research, while the outbreak is highlighting the need to improve public healthcare provisions and consider new supporting policies, for the short and the long term. INSTABILITY PRODUCES OPPORTUNITY Despite what seems to be the most unstable economic situation since 2008, investment opportunities still abound. Technology and healthcare companies, for instance, look set to benefit from changes in our patterns of working and a renewed focus on healthcare, respectively. More opportunities will likely arise over the coming weeks and months; identifying them at attractive prices will not be easy, but a broader perspective on issues facing society and the global economy will help.
  • 10/11/2020
    Keeping up with a changing world Dunia secara terus menerus berevolusi, dan sekarang perubahan ini menjadi katalis untuk inovasi teknologi yang belum pernah ada sebelumnya. Ketika terdapat begitu banyak disrupsi, haruskah investor menerima revolusi? Panta rei, ‘semuanya mengalir’, ungkap Heraclitus, seorang filosof Yunani. Ia mengabadikan konsep kebutuhan mendasar untuk perubahan yang berlaku untuk apapun. Perubahan memungkinkan semangat bertahan, evolusi, kemajuan – bagi perusahaan, ekonomi, negara, bahkan bagi makhluk hidup terkecil di bumi sekalipun. Transformasi tidak dapat dihindari. Sudah menjadi bagian dari sifat manusia untuk selalu melihat ke depan, dan tuntutan akan produk dan layanan yang lebih baik, lebih efisien, terjangkau, dan dapat diandalkan, menyebabkan perusahaan untuk meningkatkan apa yang sudah ada dan menciptakan sesuatu yang belum ada. Perubahanlah yang dapat menyebabkan untung atau rugi (karena sangat sulit diprediksi). Jadi, di era The Great Instability, ketika keterkaitan faktor politik, ekonomi, dan sosial berada di level yang tertinggi, bagaimana investor dapat menyikapi dunia yang terus berubah ini? LANGKAH DAN PENCAPAIAN Lima puluh tahun lalu, ada seorang laki-laki yang berhasil mendarat di bulan untuk pertama kalinya, menjadi sebuah pencapaian fisik dan teknologi yang belum pernah terpikirkan hingga saat itu. Hari ini, prosesor smartphone yang kita miliki lebih canggih dibandingkan sistem yang digunakan pada saat pencapaian bersejarah tersebut. Laju inovasi yang didorong oleh perkembangan teknologi telah maju sangat pesat dan tanpa henti, dan dunia menjadi tempat yang berbeda bahkan dari satu dekade yang lalu. Seiring dengan evolusi perangkat keras dan perangkat lunak, kemampuan kita memanfaatkan potensi teknologi pun juga turut berkembang untuk meningkatkan lebih banyak aspek kehidupan kita. Selain itu, banyak perusahaan yang enggan berhenti begitu saja untuk melampaui ekspektasi konsumen. Mereka terus melakukan penelitian untuk menginspirasi kemajuan di generasi mendatang. Di area seperti transportasi, energi, dan layanan kesehatan, inovasi dan AI (Artificial Intelligence) memungkinkan perkembangan yang tak terbayangkan sebelumnya dan mampu menjadi terobosan baru bagi masyarakat saat ini. MEMBENTUK NEW NORMAL Krisis iklim telah menuntut adanya transformasi yang signifikan ketika wabah COVID-19 muncul. Dalam menanggapi pandemi dan dampak turunannya, banyak sektor berusaha menafsirkan apa arti new normal bagi mereka dan bagaimana beradaptasi dengan aturan dan perilaku yang baru. Transportasi, gaya hidup, kesehatan, energi, pendidikan, bahkan keuangan dan investasi, semua menghadapi potensi disrupsi seiring penyesuaian kebiasaan di masyarakat dan proses pemulihan di berbagai sektor yang mulai berjalan. Oleh karena itu, beberapa bulan kedepan akan menjadi momen penting bagi banyak pihak dan bisa menciptakan peluang bagi para inovator untuk memanfaatkan perubahan pada permintaan (demand) pasar. Di sisi lain, seperti ajaran Newton, ‘setiap aksi menciptakan reaksi yang berimbang dan berlawanan’. Ketika perubahan menciptakan ruang bagi inovasi, mereka yang tidak beradaptasi ke arah tersebut sudah pasti akan jauh tertinggal. PERMAINAN YANG MENGGIURKAN.. Perubahan tidak selalu baik atau buruk. Namun, menyamakan apa yang ditawarkan perusahaan dengan keinginan dan kebutuhan konsumen juga tidak mudah. Inovasi bukan untuk mereka yang ragu, dan investasi yang dibutuhkan serta risiko yang mungkin terjadi tidaklah selalu jelas. Bagi mereka yang berhasil, seringkali hasilnya sangat besar tetapi tidak berlangsung lama, karena akan selalu ada orang yang mencari 'versi 2.0' dari inovasi pertama. Tentu kita masih ingat dengan merek Blackberry, Blockbuster dan Kodak? Mereka dulu adalah pelopor dan inovator di bidangnya masing-masing, namun peruntungan mereka berubah ketika pihak lain melakukan disrupsi dan mengambil alih dominasi.  ..DENGAN PEMENANG YANG TERUS BERGANTI Inovasi menjadi medan pertempuran kompetitif yang utama di hampir setiap sektor, terlihat dengan semakin banyaknya perusahaan yang berisiko mengalami kemunduran atau bahkan ketinggalan zaman. Namun ketakutan ini pula yang mendorong banyak pihak lain untuk melakukan perubahan signifikan dan ikut terjun dalam permainan. Loyalitas kini semakin susah diperoleh dan konsumen punya lebih banyak sarana untuk menyampaikan kekecewaannya terhadap produk atau layanan yang digunakan. Karena itulah, fokus terhadap data konsumen juga perlu untuk ditingkatkan. Namun, tidak semua perusahaan mampu melakukan hal ini, selain karena faktor biaya dan waktu. Jadi, perlu dipahami bahwa mengakses dan memahami tren dan opini dari berbagai sumber, selain masukan dari internal - adalah bahan bakar utama untuk melakukan inovasi di sektor mana pun. Tetapi, tidak selalu perusahaan terbesar atau pembiayaan terbesar mampu membuat terobosan penting. Perusahaan kecil sangat mungkin melihat peluang tersebut dan kemudian memanfaatkan momentum untuk berinovasi dan membuatnya tumbuh dengan pesat (contohnya, aplikasi Zoom). BEBERAPA KEMUNGKINAN Terlepas dengan perubahan yang terus terjadi, masih ada ruang untuk membuat asumsi yang masuk akal, terutama soal dampak pandemi. Konsumen telah dipaksa untuk mengurangi atau meninggalkan kebiasaan belanja, makan di luar, atau bepergian. Pengeluaran jadi lebih banyak dialihkan secara online, sebagaimana dibuktikan dengan data di bulan April dan Mei, e-commerce mengalami pertumbuhan hingga 60% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Bahkan ketika kebijakan lockdown direlaksasi di banyak negara, pandemi ini telah mempercepat penetrasi e-commerce selama dua tahun, dan kebiasaan baru mungkin menyebabkan pergeseran secara permanen ke pasar online. Kalangan milenial yang semakin berpengaruh dan penikmat teknologi yang terus bertambah, menuntut adanya pengalaman online yang makin personal. Sehingga, bagi perusahaan yang ingin berhasil di segmen ini, harus siap dengan realitas baru bergaya social-distance dengan fasilitas belanja yang “minim-kontak”, tidak berbelit, serta pengalaman offline dan online yang dipadukan secara original dan lebih personal. INSTABILITY PRODUCES OPPORTUNITY Peta kondisi saat ini sangat kompleks. Laju perubahan yang cepat dan cakupan sektor yang luas bisa menawarkan peluang dan juga risiko, antara keberhasilan yang temporer atau kesuksesan yang tahan lama. Perkembangan yang dapat merevolusi suatu sektor secara permanen tidaklah mudah untuk dikenali, apalagi untuk mengenali peluang itu sebelum mereka menjadi berita ‘lama’. Berinvestasi dalam inovasi membutuhkan dedikasi dan pemahaman tentang dinamika di dalamnya. Oleh karena itu, BNP Paribas Asset Management selalu memegang prinsip untuk melakukan investigasi sebelum menentukan apakah investasi yang akan dilakukan sudah cocok dengan tujuan yang ingin dicapai. Tim ahli kami menawarkan solusi investasi yang dapat membantu Anda merasakan manfaat dari perubahan masif pada lanskap investasi. Kami senantiasa siap membantu investor menavigasi di era yang serba tidak pasti dan tidak stabil ini melalui identifikasi potensi-potensi yang memiliki prospek di masa depan. Keeping up with a changing world The world is constantly evolving, and nowadays this change is a catalyst for unprecedented technological innovation. When there is so much potential for disruption, should investors embrace the revolution? Panta rei, ‘everything flows’, said the Greek philosopher Heraclitus, eternalising the concept of a fundamental need of change that applies to anything. Change allows survival, evolution, progress – for the smallest living being on earth as well as for any country, economy or company. Transformation is inevitable. It’s human nature to look ahead, and the demand for better, more efficient, affordable and reliable goods or services leads companies to improve what exists already and invent what doesn’t. Change is where fortunes are made and lost (as it’s quite unpredictable). So, especially in the era of The Great Instability, when political, economic and social variables are interconnected as never before, how can investors successfully approach an ever-changing world? STEPS AND MILESTONES Fifty years ago, man first landed on the moon – a physical and technological step unthinkable until then. Today, our smartphone processors are stronger than the systems that made that historic event possible. The rate of innovation led by technology has been broad and relentless, and the world looks very different from even just a decade ago. As hardware and software evolve, so does our ability to harness their potential to improve more aspects of our lives. Furthermore, many companies don’t just stop at exceeding consumer expectations, but keep researching to inspire a whole new generation of advancements. In areas such as transport, energy and healthcare, innovation and AI are enabling previously unimaginable developments that are ground-breaking for our society. SHAPING THE NEW NORMAL The climate crisis was already calling for significant transformation when COVID-19 made its appearance. Following the pandemic and the related response, many sectors are determining what the new normal means for them and how to adapt to new rules and behaviours. Transport, leisure, healthcare, energy, education, and even finance and investing, all face the prospect of disruptive change as people adjust and recovery takes shape. Therefore, the next few months could be crucial for the future for many and create an opportunity for innovators to capitalise on evolving demands. On the other hand, as Newton taught us, ‘every action has an equal and opposite reaction’. When change creates room for innovation, those that don’t move in that direction will undoubtedly be left behind. A TEMPTING GAME… Change isn’t always good or bad. But, aligning a company’s offer to what consumers want and need is not easy. Innovation is not for the faint-hearted and it’s not always clear what it takes in terms of investment and risk. For those who succeed, the rewards are high but often short-lived, as people are continuously looking for ‘version 2.0’. Remember Blackberry, Blockbuster and Kodak? Once giants and innovators in their respective fields, they saw their fortunes change as others disrupted sectors that they once dominated.   …WITH UNCERTAIN WINNERS So, innovation is becoming a key competitive battleground in nearly every sector, with many companies risking going backwards or potentially becoming obsolete. But it’s also this fear that pushes many others to embrace significant changes and play the game. Loyalty is harder to achieve these days and consumers have more tools to be vocal when disappointed. Therefore, significant focus is being driven towards customer data. This is a time-consuming and expensive luxury that not all companies can afford. So, accessing and understanding trends and opinion from various sources, not just in-house customer feedback, is the fuel for innovation in any sector. But it’s not always the biggest or best-financed firms that make crucial breakthroughs. A small company might see an opportunity and act on it, letting them grow at significant speed (zoom for example). SOME LIKELY SCORES Despite ongoing change, it’s still possible to make some reasonable assumptions – especially due to the impact of the recent pandemic. Consumers have been forced to abandon or reduce their habits of shopping, eating out or travelling. Most of the spending has shifted online, as proven by the fact that, in April and May, e-commerce grew by 60% compared to the same period in 2019. Even if lockdown measures are easing in many countries, the pandemic has accelerated e-commerce penetration by two years, and the new habits could cause a permanent shift towards online markets. The increasingly influential millennials (and tech-comfortable consumers in general) are becoming ever more demanding of a tailored online experience. So, any company attempting to succeed in this new, socially-distanced reality will have to offer contactless, uncrowded shopping options and leisure opportunities, and blend physical and digital experiences in original and personalised ways. INSTABILITY PRODUCES OPPORTUNITY As usual, the picture is one of dizzying complexity. The pace of change and the breadth of sectors to cover can offer opportunities and risks, temporary springboards or long-lasting successes. The developments that can revolutionise a sector for good aren’t always easy to spot, let alone to spot before they are yesterday’s news. As investing in innovation takes dedication and understanding of the dynamics involved, never has the BNP Paribas Asset Management ethos of investigating before investing been so suited to the purpose. Our team of experts offers investment solutions that can help you benefit from the massive shift in the investment landscape. We can help investors through the haze of uncertainty and instability by identifying those leading lights that will shine brightly tomorrow.
Halaman 1 dari 19 halaman